Sunday, March 17, 2013

Buatmu Kawan Sejalur!

Adalah sebuah dinamika harafiah,
ketika rasa curiga semakin menggeliat di dalam kalbu yang merona,
tatkalah Nafsu marasuki jiwa yang lugu lagi tak berparas,
sesungguhnya hentakan langkah makin tersendat
di dalam kebingungan yang selalu membelenggu.

Kawan!
Kita masih di jalur yg sama,
kebahagiaan adalah semu di dlm jalur ini, rasa pilu, perih pedih adalah sahabat sejati, ketika dunia semakin bengis tanpa resah menggerogoti Pulau bak Permasyuri.

Kawan!
Kami tetap satu, satu dalam kata LAWAN,
di bawah bendera merah Panji kebesaran dalam slogan REVOLUSI
 "Kita harus............ Mengakhiri".
Nyanyian sunyi pelipur lara,
duka menggebu bercampur haru,
deru berlinang airmata, jalan-jalan sontak redup,
nyanyian Pilu meredang utuh, Papua Kian sunyi.

Kawan!
Dunia tak seluas Daun kelor,
beribu jalan menanti tujuanpun hendak di gapai,
disana di situ tempat kita bergirang riang,
Entah kapan,saat itu kan segera datang...
Kita tetap satu!

Kawan!
Ijinkan aku titipkan cerita disini,
aku ingin jadi bagian terpenting dalam sejarah ini.

Akhirnya kita kan berjumpa di sana tempat mimpi kita bersanding, disitulah surga.
Salam Revolusi.

By.
Kawan sejalur.
Jend. WIM ALOM

-------------------------------

Thursday, March 7, 2013

Coretan Malam di Sudut Kota Kolonial.

Muramnya negeri ini
Lihatlah, jangan hanya satu sisi
Lihatlah, jangan di barat tetapi timur juga
Mungkin suara itu hanya samar
Terdengar sesaat kemudian reda
Itu bagimu tetapi tidak bagi kami ditimur

Dipaksa sejak saat itu 1963
Harus bersama setengah abad
Namun tak sejalan bahkan tak seirama
Ibarat lirik lagu tak berirama
Bagimu terdengar merdu tetapi sumbang ditelinga kami


Dibarat persoalan partai
Ditimur persoalan harga diri
Dibarat demokrasi penuh sensasi
Ditimur demokrasi dibungkam
Memang antara barat dan timur
akan selalu ada perbedaan

Walau perbedaan itu indah dan
nampak menyatukan tetapi tak selamanya.
Sudah waktunya bagi negeriku Papua 

Untuk mandiri, mengambil sikap

Merdeka dan berdaulat diatas tanah airnya.


By. Phaul Heger
@Renungan Malam di Sudut Kota Kolonial.



Sepi, Menanti

Aku disini dalam dekapan harap
Aku disini menanti dalam cemas
Hadirmu yang ku ingin disini
Temani aku dalam perjalanan ini

Biarkan waktu berlalu tetapi kau tetap disini
Menemani dalam kesepian
Biar tak ada lagi ada sedih,
kecemasan terganti
Satu cinta untukmu,
dan hanya untukmu


Dari ruang rindu ku sapa dirimu
Menanti dan berharap hadirmu
ku tunggu dan ku nanti kau disini  

By. Phaul Heger